Kamis, 04 Desember 2014

Bekerja Setengah Hati

Entah harus mulai darimana,,,agak bingung juga dengan perasaan & pikiran Saya. Huffttt,,,perpindahan mendekati rumah seperti permintaan suami telah terrealisasi per 01 Januari 2013. Yah memang belum terlalu dekat sih, tapi setidaknya ada kemungkinan berpindah ke yang lebih dekat dalam waktu 1 tahun ke depan. Sempat frustasi karena bukan itu yang Saya inginkan, tapi mungkin itu yang terbaik yang diberikan Allah SWT kepada Saya. Alhamdulillah perlahan Saya mulai mengikhlaskan semua & menikmati karena memang rekan kerja lumayan seru. Saya berada di lantai dua, 1 ruangan dengan para lalaki yang rata-rata masih bujangan,,,pun mereka terbilang masih muda, cukup jauh dibawah Saya usianya tapi ga jauh-jauh banget sih,,,hehehe,,,

Waktu demi waktu berlalu, hari demi hari berganti, tibalah masa 1 tahun yang dinanti dengan keluarnya SK penempatan di kantor yang paling dekat dengan rumah per tanggal 01 Januari 2014. Namun entah kenapa ko rasanya hampa yah,,,tawa canda yang biasa terjadi di tempat sebelumnya terasa hambar di tempat baru ini. Ahhh,,,mungkin karena memang Saya & mereka belum terbiasa,,,satu sama lain kita masih merasa seperti orang lain,,,orang baru yang tak mengenal pribadi masing-masing. Atasan pun sangat-sangat kaku menghadapi bawahan-bawahannya (red-itu yang saya rasakan, entah yang lain). Mungkin saya saja sebenarnya yang ga bisa diem, tukang ribut, tukang bikin onar, suka bercanda. Bukan kenapa-kenapa sih, karena menurut saya bekerja itu harus dinikmati, seperti saat kita menggigit coklat ataupun memakan ice cream,,,nikmati dengan mendalam, karena dari situ akan muncul rasa bahagia mungkin karena hormon endorfin mulai aktif saat kita menikmati sesuatu. Nah begitupun dengan pekerjaan kita seharusnya, menikmati pekerjaan pun akan memunculkan hormon endorfin, sehingga rasa stress tak menghinggapi kehidupan pekerjaan kita. Itu idealnya,,,tapi bagaimana jika orang di sekitar anda atau bahkan atasan anda tidak menyukainya? akan beda lagi ceritanya. Itulah yang terjadi pada Saya, bahkan pekerjaan Saya sebagai supporting setiap proses bisnis yang ada pun tetap dianggap 'tidak penting' dan mungkin Sayapun dicap 'you r nothing'. Kalau boleh nyanyi pasti judul lagunya 'sakitnya tuh disini' (tuh kan nyanyi lagi-nyanyi lagi). Tapi itulah realita, ketika tidak terjadi apapun & semua lancar-lancar saja seolah tidak ada yang merasa bahwa Saya & rekan saya sebagai support system yang menjaga availability local network berada dibalik itu semua. Yah namanya juga pemain belakang yang ga pernah nampil, padahal sangat 'penting' untuk sebuah kelancaran proses bisnis, rasanya seperti orang yang 'dicampakkan' (red : mulai lebay deh). Lagi-lagi dalam hati meringis & bernyanyi 'sakitnya tuh disini (red: sambil nunjuk perut) di dalam hatiku'. Ya sudahlah, saya mulai bisa menerima keyataan ini walau pahit & pedih kurasa (red: halllaaahhh,,,).

Ya saya memang sudah menerimanya, tapi ya karena penilaian secara kasat mata hingga penilaian diatas kertas ternyata tidak sesuai dugaan harap maklum yah kalau saya bekerja sesuai nilai (red: tuh kan malah demotivasi). Inilah yang saya sebut 'bekerja setengah hati'. Kadang saya merasa ingin bekerja memberikan yang terbaik untuk perusahaan, tapi sisi lain hati saya berontak 'ngapain kamu kerja keras wong hasilnya gitu-gitu aja'. DILEMMA, yah begitulah pikiran & hati Saya saat ini. Mungkin sebenarnya hal ini seperti akumulasi dari kekecewaan beberapa tahun belakangan pun di tempat yang lama.

Sampai pada satu kesempatan datanglah S** (red : baca saja pengawas/konsultan proses bisnis) ke kantor Saya. Tanpa pikir panjang sayapun menitipkan CV saya ke salah satu atasan yang mengenal salah satu anggota S** tersebut. Dari situ muncul cerita baru yang bahkan Saya tak pernah menceritakannya bahkan secuil kepada atasan tersebut. Namun dengan persepsi & asumsi, dengan lantang dia menyampaikan perasaan Saya seolah-olah dia mengetahui & pernah mendengar cerita curhat dari Saya. BOOM, dan muncul kembali isu bahwa saya akan dipindahkan ke bidang lain karena Saya tidak nyaman di tempat lama. Seandainya benar pun, seharusnya dia tidak punya privilege untuk membahas Saya berkenaan dengan persepsi dia di rapat para atasan hanya berdasar lamaran saya, meskipun memang dia adalag seorang atasan. Huuffttt,,,perasaan Saya makin berkecamuk saja & malah semakin tidak nyaman berada di area ini. GOD please show me d way,,,rasanya malah jadi pengen resign,,,arrggghhh bekerjaku akan makin 'setengah hati' nih,,,aku ga pengen begini, ini bukan aku,,,

Akhirnya mungkin aku harus pasrah kembali, menunggu kepastian SK baru ataupun menanti panggilan dari S**. Dengan sepenuh hati aku memohon padamu Yaa Rabb yang Maha Bijaksana, berikan aku tempat yang baru & kelapangan hati. Insya Allah